Kamis, 03 Februari 2011

Clutch Handmade

KOMPAS.com - Memulai bisnis produk fashion dari keterampilan tangan tak hanya mendatangkan keuntungan secara ekonomi. Keberhasilan dan kemahiran membuat berbagai kerajinan tangan juga membuat banyak entreprenuer perempuan yang sukses menjadi pengajar. Berbagai ilmu dan keahlian kepada perempuan lainnya, untuk saling memberdayakan.

Inilah yang dialami Epie Santoso, ahli pembuat clucthbag yang selalu menyempatkan diri mengajar keterampilan membuat clucthbag, termasuk di kelas keterampilan Klub Nova.

Menurut Epie, kemahiran dalam bidang clutchbag tidak datang begitu saja. Sejak sekolah kejuruan (setingkat SMA), Epie sudah senang dengan kerajinan tangan. Banyak keterampilan yang diajarkan semasa sekolah. Namun, keterampilan yang didapatinya itu tak digelutinya lagi sejak memutuskan bekerja di salah satu perusahaan di Bandara Soekarno-Hatta.

Pemutusan Hubungan Kerja pada 1990 menjadi titik balik Epie untuk menggeluti talentanya kembali. Epie melihat peluang bisnis dari observasinya di kawasan tempat tinggalnya di Bintaro. Banyak butik mewah bertebaran di Bintaro, dan berdasarkan survey yang dilakukannya belum ada satu pun butik yang membuat tas atau selop. Inilah peluang yang ditangkap jeli oleh Epie.

Memanfaatkan kain sisa
Epie memulai bisnis dengan mencoba membuat selop atau tas dari kain sisa yang dihias batu, payet atau mutiara. Semakin sering berlatih dan praktek membuat produk dari kain sisa, Epie semakin percaya diri dan memberanikan diri menawarkan produknya ke butik.

"Sambutannya bagus dan butik-butik ini mulai memesan," tutur Epie yang juga menjalin kerja sama dengan butik tersebut. Epie menawarkan pemilik butik, jika ada sisa kain dari pesanan pembuatan pakaian pelanggan butik, nantinya akan dibuatkan selop atau tas. Penawaran yang tentunya menyenangkan bagi pelanggan. Benar saja, semakin hari semakin banyak pelanggan butik yang memesan selop atau tas. Tentu saja butik tersebut akan memesan permintaan pelanggan kepada Epie.

Merekrut karyawan seiring bertambahnya pesanan
Makin lama, tidak hanya butik di bilangan Bintaro yang menjadi langganan Epie. Butik di Pondok Indah dan Bumi Serpong Damai juga mulai melirik kreasi Epie. Seiring meningkatnya produksi, Epie mulai merekrut karyawan.

"Memenuhi keinginan pelanggan sebaik mungkin menjadi tantangan usaha ini," aku Epie, menambahkan banyak pelanggannya yang meminta hasil jadi dengan kualitas bahan atau bentuk tertentu. "Tetapi justru dengan semakin banyaknya permintaan yang bermacam-macam ini saya semakin kreatif," tambahnya.

Pelanggan memicu kreativitas

Keinginan untuk mewujudkan permintaan pelanggan membuat Epie semakin kreatif. Agar tak ketinggalan tren, Epie acapkali mengunjungi mal sekadar mencari referensi model terkini. Buku fashion juga menjadi referensi lain untuk mengembangkan kreativitasnya.

Kini, pelanggan Epie semakin meluas dari berbagai kalangan. Termasuk kalangan pejabat, selebritis hingga pelanggan dari kedutaan besar negara sahabat. Artinya, produk kreasi Epie tak hanya semakin banyak digemari tetapi juga diakui kualitasnya.

Senang berbagi ilmu
Meski disibukkan pekerjaannya untuk memenuhi permintaan pelanggan, Epie tak mengelak jika diminta mengajar keterampilan.

"Saya tidak takut disaingi karena rejeki itu datangnya dari Tuhan," tutur Epie yang mengaku puas melihat muridnya sukses dan memiliki usaha mandiri.

Menurut Epie, kemampuan berkreasi dan membuat produk buatan tangan sendiri lebih hemat ketimbang membeli jadi. Baginya, akan lebih baik dan bermanfaat jika membuat dan menjual kreasi sendiri untuk menambah pemasukan, daripada mengeluarkan uang banyak untuk membeli produk orang.

Kesuksesan tak membuat Epie terlena. Masih banyak mimpi yang ingin diwujudkannya. Termasuk membuat buku tentang ilmu keterampilan clutchbag, mengajar, dan membuka workshop. Berbagi ilmu dan mengembangkan usaha memotivasi Epie untuk terus berkarya.

(R Suryanto)

WAF

Editor: Asep Candra

Sumber: Warta Klub Nova

Tidak ada komentar:

Posting Komentar